
Minggu, 21 November 2011 adalah hari minggu pertama yang kulalui di desa ketam putih, Bengkalis. Hari itu aku berjanji pada murid – muridku untuk jalan – jalan bersama berkeliling desa. Jam delapan pagi, muridku mulai berdatangan. Sambil menunggu semua murid – muridku yang lain datang aku mengajak anak – anak yang sudah datang untuk membaca bersama. Kebetulan di halaman rumah housefamku ada meja dan bangku yang biasa digunakan untuk duduk – duduk santai di sore hari. Anak – anak yang sudah datang membaca buku di sana, mereka terlihat sangat menikmati buku bacaannya.
Menjelang pukul sembilan pagi anak – anak yang lain mulai banyak berdatangan namun belum semuanya. Anak – anak itu duduk berdesak – desakan ddi meja dan bangku yang makin lama pastinya terasa semakin sempit. Dari tempat dudukku kulihat ibu Farida (Housefamku) mengangkat pot – pot bunga yang besar dan berat lalu mengeluarkan isinya. Dalam hati aku bergumam “lagi ngapain ibu?”, aku penasaran dan ingin membantu namun murid – muridku memerlukan perhatianku.
Makin lama muridku semakin banyak dan akhirnya bangku dan meja yang ada tidak muat lagi. Sebagian muridku duduk di di undakan tangga di depan rumahku ada pula yang membaca sambil berdiri, celotehan pertanyaan dari anak – anak ini juga tidak ada hentinya. Ibu Farida sudah tidak sibuk dengan pot – pot bunganya, sekarang beliau mengangkat papan – papan kayu dari gudang di belakang rumah kami. Aku berusaha melepaskan diri sebentar dari serbuan pertanyaan anak – anakku, aku penasaran. “Bu lagi ngapain ini?” tanyaku kepada beliau “inilah, ibu hendak bikinkan meja dan bangku yang baru lagi supaya anak – anak tuh bisa belajo di sini” jawab ibu dengan logat melayu yang kental. Jawaban ibu ini membuat tenggorokanku tercekat, kutahan – tahankan supaya air mata tidak keluar, aku terharu. Tanpa aku meminta ibu Farida membuatkan tempat belajar baru untuk anak – anakku.
Tak lama kemudian Nova dan Fajar, anak ibu Farida, pulang dari latihan Pramuka. Mereka langsung membantu ibu Farida membuat meja dan bangku untuk murid – muridku. Saat aku ingin membantu, ibu hanya menjawab “Usahlah kau ajo budak – budak tu saja” (tidak usahlah, kau ajar anak – anak itu saja). Jawaban ini membuatku benar – benar berusaha untuk tidak menangis, aku pun kembali ke anak – anaku dan ternyata mereka sudah berkumpul semua. Mereka langsung mengajakku jalan – jalan, aku merasa tidak enak meninggalkan bu Farida yang sibuk membuatkan tempat belajar baru untuk muridku. Seakan bisa membaca pikiranku bu Farida berkata “sudahlah jalan – jalanlah awak besamo budak – budak tu ye, usahlah kau pikirkan ibu” (Sudahlah berangkat jalan – jalan saja kamu dan anak – anak itu ya, ga usah mikirin ibu. Aku pun berpamitan untuk mengajak anak – anakku jalan – jalan. Kucium tangan wanita yang tulus ini, aku bersyukur pada Tuhan karena Dia benar – benar memberiku keluarga yang baru di pulau bengkalis ini.

Nama lengkapnya Ahmad Syukri, biasa dipanggil Arul. Dia murid kelas tiga di SDN 57 Ketam Putih, Bengkalis. Umurnya 10 tahun. Pertama kali aku melihatnya adalah hari Senin, 7 November 2011. Arul langsung menarik perhatianku karena penampilannya yang berbeda. Jalannya pincang dan miring, tangannya melambai ganjil mengikuti setiap langkah kakinya yang timpang. Dari mulutnya pun air liur sering menetes tak terkontrol. Badannya pun miring ke kanan, tidak simetris.
Pertama kali melihat Arul, aku langsung merasa tertantang, ternyata ada anak berkebutuhan khusus (ABK) di sekolah baruku ini. Langsung terlintas cara seperti apa yang harus aku gunakan untuk mengajarnya, manajemen kelas seperti apa yang harus kuterapkan (karena biasanya ABK tidak berada di kelas yang sama dengan anak lainnya). Bagaimana caraku mengatur perhatian agar merata ke setiap anak dikelasku tanpa mengabaikan kebutuhan khusus Arul. Tak sabar hatiku menanti saat – saat mengajar kelas tiga.
Hari rabu datang juga, hari aku mengajar kelas tiga. Sehari sebelumnya sudah kupersiapkan strategi untuk mengajar kelas ini. Dari rumah kuniatkan untuk tidak membedakan Arul dengan anak lainnya, aku akan berusaha memperlakukan dan memberikan perhatian yang seimbang untuk setiap anak dikelasku.
Saat aku memasuki kelas tiga untuk pertama kalinya tidak bisa kulupakan bagaimana tatapan anak – anak di kelas itu. Mereka semua menatapku dengan tatapan penuh ingin tahu, mereka semua tertarik dengan guru baru dihadapan mereka. Arul pun demikian. Aku memulai kelas dengan mengajak mereka semua bernyanyi bersama. Arul menarik perhatianku lagi karena dia bisa mengikuti setiap nyanyian dengan penuh semangat. Ekspresi senang yang terpancar dari wajah anak – anak itu menjadi bulir kebahagian yang mengalir dalam hatiku. Aku bersyukur karenanya.
Seusai menyanyi aku mengajar bahasa Indonesia, penggunaan huruf kapital yang tepat. Berkali – kali aku mengulangi penjelasan dan permainan yang aku buat, banyak anak yang belum mengerti namun aku dikagetkan lagi oleh Arul lagi, dialah anak pertama yang memahami penjelasanku dan bisa menunjukan penggunaan huruf kapital yang tepat pada flashcard yang kubuat. Arul pun tidak meminta ataupun membutuhkan perhatian khusus, dia bisa berbaur seperti layaknya anak yang lainnya. Justru yang membuatku kewalahan adalah semangatnya untuk terus mengangkat tangan dan menjawab semua pertanyaan yang kuberikan.
Hari itu juga aku menyadari kesalahanku. I judge a book by it cover. Arul adalah anak yang cerdas yang memiliki sedikit keterbatasan fisik. Dari cerita yang kudengar dari ibunya, Arul mengalami keterbatasan fisik karena masalah yg terjadi pada saat melahirkan. Arul baru bisa berjalan pada usia lima tahun dan masuk sekolah pada umur delapan tahun. Terus terang aku kagum dengan ibu Arul. Walaupun anaknya memiliki keterbatasan fisik beliau tidak pernah memanjakannya jika Arul berbuat salah beliau langsung menegurnya dan setiap hari beliau menanamkan bahwa Arul bisa melakukan apapun.
Saat aku mengadakan seleksi untuk anak yang mengikuti Olimpiade Sains Kuark , Arul adalah salah satu anak yang rajin membaca, mengikuti materi, dan memberikan pertanyaan – pertanyaan cerdas padaku. Aku memilihnya sebagai salah satu anak yang akan mengikuti Olimpiade Sains Kuark (OSK) walau banyak guru yang kurang sependapat tapi aku percaya Arul mampu. Arul adalah bukti nyata bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk berkata tidak bisa. Setiap hari saat melihat Arul aku serasa mendengar teriakan “Aku Bisa!!!” Berkali – kali dihatiku.

Minggu malam ini, hujan tidak berhenti semenjak jam delapan malam tadi dan sekarang jarum jam sudah menunjukan pukul sebelas. Ah.. artinya besok tidak ada upacara bendera lagi. Sudah dua bulan ini sekolahku tidak melaksanakan upacara bendera karena lapangannya yang tergenang air jika hujan. Kuputuskan untuk tidur saja karena besok aku harus bersiap – siap bangun pagi untuk ke UPTD di kota Bengkalis.
Keesokan harinya, aku sudah siap semenjak jam tujuh pagi, aku menunggu Noel untuk berangkat ke UPTD di kota Bengkalis bersama – sama. Sudah terbayang jalan terjal dengan besi jalanan, banjir, dan lumpur yang meluap dimana – mana. Namun semua itu harus dihadapi untuk bisa sampai ke UPTD dan menyerahkan surat tugas kami. Sebelum ke UPTD aku mampir ke sekolahku untuk meminta izin dan melihat kondisi sekolahku.
Alangkah terkejutnya diriku saat sampai di sekolah, air berwarna merah semerah air teh membanjiri lapangan sekolah kami, tingginya semata kaki. Beberapa guru yang sudah tiba di sekolah bergorong royong untuk membuat semacam jembatan kecil dari kayu agar siswa – siswa bisa melalui jembatan tersebut dan masuk kelas. Aku hanya terpana dan terharu melihat bagaimana dedikasi guru – guru di sekolahku ini.
Mari kuceritakan kondisi sekolahku pada kalian. Sekolahku adalah SDN 57 Ketam Putih. SDku ini baru di”negeri”kan pada tahun 2010. Hanya mempunyai 2 ruang kelas sehingga ruangan yang seharusnya menjadi ruang majelis guru dialih-fungsikan menjadi ruang kelas juga. Dengan begitu SDku memiliki tiga kelas namun tidak memiliki ruang guru. Walaupun demikian tetap saja SDku kekurangan ruang kelas. Panggung yang seharusnya digunakan untuk berlatih kesenian beralih fungsi pula menjadi ruang kelas, kelas untuk siswa kelas 1 dan 2. Panggung ini tidak memiliki dinding sehingga proses belajar mengajar sering terganggu oleh siswa dari kelas lain yang datang menonton.
SDku memang baru sampai kelas 5 saja sehingga sampai sekarang jumlah kelas yang apa adanya ini, bisa dibilang masih mencukupi atau dicukup – cukupkan. Namun jika tahun ajaran baru maka SD kami jelas membutuhkan ruang kelas baru. Kondisi gedung, bangku, dan meja pun sangat memprihatinkan. Pembatas untuk ruang kelas hanyalah papan kayu sehingga suara dari kelas lain terlihat jelas, lantainya berlubang dan banyak kursi serta meja yang sudah rapuh dan sepertinya bisa ambruk kapan saja.
Ruang kepala sekolah dialasi dengan karpet plastik dan beralih fungsi menjadi ruang guru plus ruang kepala sekolah. Semua guru dan kepala sekolah setiap hari duduk lesehan bersama diruangan itu. Jangan dibayangkan ruangannya besar ukurannya mungkin hanya 2,5 m x 4 m, mungkin banyak kamar kos mahasiswa di Jakarta yang lebih besar daripada ruang kepala sekolah yang sekaligus ruang guru ini. Ruang ini juga tersambung ke ruang kelas 4 yang sebenarnya adalah ruang guru, hal ini menyebabkan siswa kelas empat sering terganggu konsentrasinya karena guru ataupun siswa yang berlalu lalang menuju ruang kepala sekolah. Ironis rasanya saat mengingat Bengkalis adalah kabupaten terkaya kedua di Indonesia.
Walaupun kondisi fisik SDku bisa dibilang “parah”, aku yakin bahwa SDku pasti bisa berkembang dengan cepat. Aku percaya itu karena aku melihat orang – orang optimis dan mau maju disekitarku yaitu Ibu Sudarmi sang Kepala Sekolah dan guru – guru di SDN 57 Ketam Putih. Walau hari hujan semua guru ini tetap datang mengajar, semangat mereka untuk memajukan SDN 57 Ketam Putih sering membuatku merinding juga. Selain itu aku melihat bakat – bakat unik pada setiap anak – anaku. Aku bisa melihat pelangi optimisme yang akan muncul di SDku ini. Seperti ucapan Mona, Siswaku yang masih kelas 2 SD “Bu lihat.. Kalau setelah hujan seperti ini walaupun banjir pasti ada pelangi yang cantik..” Ya Mona, Aku percaya, gumamku dalam hati.
Sore menjelang malam itu saya bosan dan lagi bete, hal yang biasa saya lakukan kalo lagi bete adalah cari-cari hal-hal lucu untuk mengalihkannya. Saya bukalah Twitter @Radityadika , dan benar saja saya ngakak parah melihat twitpic yang dipajang disana. Jadi foto-foto itu dibuat untuk mengambarkan Emoticon-emoticon lucu didunia nyata. Ini nih Fotonya :
Lihat lah bagaimana emoticon imut ini bertransformasi jadi amit..
(-____-)

щ(ºДºщ)
(” `з´ )_,/”(>_<’!)

(° ∩_∩)-c<╯˛ ╰”)

ƪ(˘(••)˘)ʃ

Sejak kecil Ibu saya mengajarkan kepada saya untuk bertanggung jawab atas semua pilihan yang saya ambil. Tahukah kalian bagaimana cara ibu Saya mengajarkan pada Saya arti tanggung jawab, arti kerja keras, arti konsekuensi pada saat Saya kelas satu SD? Saat saya ngambek tidak mau sekolah, mengeluh bosan dan memilih untuk membolos, Ibu saya membiarkan Saya, Saya bolos selama satu Cawu, masuk pada saat ulangan umum dan mendapatkan nilai terbaik di antara teman-teman Saya. Namun, Saya tidak naik kelas karena absen saya yang jauh melebihi batas. Dari situ saya belajar apa arti tanggung jawab, dari sana saya belajar untuk tidak berbuat semau kita hanya karena kita mampu, dari sana Saya belajar bahwa sekolah bukanlah sekedar nilai. Saat Saya menangis karena tidak naik kelas ibu saya berkata “Ven, ini akibat dari pilihan kamu tidak mau sekolah, sekolah itu bukan cuma dapat nilai bagus, sekolah itu lebih dari itu Ven, kalau ga pengen gini lagi tahun depan kamu harus rajin masuk sekolah yah” Dan tahukah kawan sejak saat itu jika saya malas, sakit atau ada kegiatan yang membuat saya harus tidak masuk sekolah, Saya berpikir berkali-kali dan mencari segala alternatif agar saya tetap bisa masuk sekolah.
Saya juga tidak ingat sekalipun Ibu saya pernah membentak, mencubit atau memukul Saya. Ibu saya juga bukan tipikal Ibu yang nyinyir yang akan mengingatkan anaknya untuk makan, untuk mandi ataupun untuk istirahat. Saat Saya tergila-gila dengan buku Harry Potter dan menghabiskan waktu seharian untuk membacanya, lupa makan, minum dan mandi, ibu saya nyantai-nyantai aja tuh, Seorang Bude saya yang melihat kelakuan saya berkata “Prih, anakmu mbok yo di kon adus, wong wedok kok koyo ngono” (Terjemahan : Prih, anakmu disuruh mandi sana, anak cewek kok kayak gitu), ibu saya hanya menjawab, “biarin aja, ntar kalo ngerasa badannya bau juga mandi”. Sejak saya masuk kelas satu SMP ibu saya mengijinkan saya pulang malam, pulang diatas jam 21.00 asalkan jelas kemana saya pergi. Sampai sekarang pun saya bebas menentukan mau pulang jam berapa, pulang ke rumah atau tidak. Untuk banyak hal saya tidak pernah meminta izin pada ibu saya namun hanya memberi pemberitahuan. Keputusan menjalankan atau tidak sepenuhnya ada ditangan saya.
Begitu pula untuk pilihan-pilihan besar dalam hidup saya, Ibu saya membebaskan saya, Ibu saya menghormati pilihan saya dan kakak saya walaupun terkadang sakit baginya untuk melihat kami jatuh bangun menjalani pilihan kami, beliau tetap menghormati pilihan kami. Kakak saya menikah pada usia 19 tahun, Saya tahu ibu saya tidak setuju dengan pilihan kakak saya karena jelas kakak saya masih terlalu muda untuk menikah. Namun apakah ibu saya membuka mulutnya untuk melarang, tidak sama sekali, ibu saya hanya bilang “Menikah itu bukan sesuatu yang mudah, pikirkan baik-baik. Apa kamu benar-benar siap?” saat kakak saya menjawab siap tidak sedikitpun larangan muncul dari mulut Ibu saya. Malah waktu itu Saya yang mati-matian protes dan melarang. Saat saya menceritakan rencana hidup saya dimana Saya ingin mendahulukan karir saya tanpa ada rencana menikah sampai usia 28 tahun, ibu saya hanya bilang “jodoh dan karir itu ditangan Allah kamu jalanin aja”, Saat teman-teman saya banyak yang bercerita bagaimana ibunya mulai ribut menanyakan kapan menikah, tidak sekalipun Ibu saya menanyakannya pada saya. Saya sering menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin akan membuat banyak orang tua lain kesal, marah atau merasa susah menjawabnya seperti ini :
V: Kalau Saya memilih untuk melepas jilbab saya gimana Bu?
Ibu : Kamu memilih sendiri untuk pakai jilbab, kalo kamu mau lepas ya itu pilihanmu juga
V: Kalau aku pengen pindah agama gimana Bu?
Ibu : Yah kalau kamu pikir islam ga sesuai buat kamu dan kamu yakin, ya itu pilihan kamu. Tapi inget berpikir yang serius untuk keputusan-keputusan besar seperti ini.
V : “Bu kalau saya memilih untuk tidak menikah bagaimana?”
Ibu : ” Yah itu pilihan kamu Ven,”
Ibu saya begitu membebaskan saya. Maka dari itu saya sangat terkejut saat saya bilang saya ingin menjadi pengajar muda selama setahun setelah lulus dan ibu saya berkata begini “coba dipikir deh, kenapa ga kerja di Jakarta saja, bapak sudah ga ada, ibu akan sendirian kalo kamu pergi. Dirumah juga ibu sekarang cuma berdua ama kamu kan sekarang” Malam itu saya diam karena inilah pertama kalinya ibu saya mengutarakan kalau dia butuh saya, kalau dia ingin saya ada disisinya dan saya sepenuhnya mengerti namun menjadi pengajar muda juga merupakan hal yang sangat saya inginkan. Semalaman saya tidak bisa berpikir karena galau, gundah dan resah. Sampai keesokan paginya saya masih berpikir. Sorenya saat Ibu saya pulang kerja dan kami berdua sedang menyiapkan makan malam, ibu saya berkata “Maafin ibu semalem, Jadi Pengajar Muda itu emang apa yang kamu penggenin dari lama, ayok cepetan daftar deadlinenya 7 hari lagi kan, ntar ketelatan lho” Saat mendengarnya saya ingin menangis rasanya, Saya cuma mengangguk-angguk saja sambil tersenyum. Ibu saya adalah orang yang paling saya hormati di dunia ini karena ibu saya juga orang yang paling menghormati semua pilihan saya di dunia ini. I Love you, Mom.

Tanggal 12 September nanti saya akan berangkat mengikuti training di Ciawi sebagai persiapan menjadi Pengajar Muda di Indonesia Mengajar. Ceritanya, temen-temen ini datang buat “say goodbye” sekalian halal bi halal gitu. Walaupun tidak lengkap dan tidak sebanyak biasanya (maklum masih hari raya), Saya merasa Senaaaang sekali.
Senang sekali deh didatangin kalian walaupun banyak anehnya tadi, tapi itu yang bikin saya senang. Teman saya di Komunikasi UI07 memang unik-unik dan menarik semuanya, sama sekali tidak pasaran karakternya, kalo tidak percaya cobalah berkenalan dan berteman dengan Anita Rosalina, Taufik Akbar, Muhammad Arfandi M,dan Anindyo S. Dwiputra. Bukan cuma mereka saja yang unik dan menarik ada Nurvina Alifa; Ayu Sartika; Susi Sakti A; Januardi Imam N; Angga Ratnawan; Ali B H; Anggun N F; M. Rinaldi Camil; Arya Pamungkas; Mutia A N; J. Raymond; Eldorido Zona Indra; Arina C; Tami; dan banyak lagi yang lainya yang tidak bisa saya sebutkan satu-satu. Bagi Saya mereka semua adalah keluarga, sering saya terlihat cuek atau iseng atau bahkan berantem, tapi bukankah seperti itu yang namanya keluarga, kadang iseng,kadang berantem, sering ketawa bareng namun satu yang pasti, selalu peduli.
Ada satu karya musikal broadway untuk menggambarkan arti kalian semua bagi saya, ini nih liriknya :
I’ve heard it said that people come into our lives for a reason
Bringing something we must learn
Well, I don’t know if I believe That’s true
But I know I’m who I am today, Because I knew you
Who can say, If I’ve been changed,for the better?
But because I knew you,because I knew you
I have been changed
For good (For Good – Wicked)